Berbasis SDGs, Tim UHO Berdayakan Kelompok Peternak Ayam Kampung Ntiarasi

- Penulis

Rabu, 24 Juni 2026 - 20:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MUNA, SULTRAMEDIA — Penguatan ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Kapasitas masyarakat sebagai pelaku utama sistem pangan lokal juga harus diperkuat.

Berangkat dari prinsip itu, Tim Pengabdian Universitas Halu Oleo (UHO) melaksanakan program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) pada Kelompok Tani-Ternak Ntiarasi di Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Batalaiworu, Kabupaten Muna, Rabu (24/06/2026).

Kegiatan ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Ditjen Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Tim pelaksana dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UHO diketuai oleh Fitria Dewi, S.Si., M.Sc., bersama drh. Restu Libriani, M.Si. dan Fitrianingsih, S.Pt., M.Sc., serta dibantu tiga mahasiswa.

Program ini berorientasi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pengurangan kemiskinan, penciptaan pekerjaan layak, dan pertumbuhan ekonomi.

Fokus kegiatannya diarahkan untuk meningkatkan pendapatan peternak, memperkuat ketahanan pangan, memanfaatkan pakan berbasis sumber daya lokal, dan membangun pengelolaan usaha yang lebih baik dan berkelanjutan.

Sebagai dukungan nyata, Kelompok Ntiarasi menerima bantuan berupa bibit ayam kampung, pakan ternak, sarana produksi, dan peralatan teknologi tepat guna.

Tim UHO mendorong peternak untuk mampu mengelola sumber daya lokal sebagai bahan pakan sekaligus meningkatkan efisiensi usaha.

Penguatan kapasitas dilakukan secara menyeluruh, mulai dari budidaya ayam kampung berbasis siklus produksi, pengolahan bahan pakan lokal, formulasi ransum, pemeliharaan sesuai fase umur, penataan kandang, pengendalian kesehatan ternak, pembibitan, hingga pencatatan usaha.

Pendekatan ini bertujuan membangun sistem produksi yang lebih terencana, efisien, produktif, dan berkelanjutan.

“Kemampuan masyarakat mengelola potensi lokal adalah kunci ketahanan pangan. Kami ingin kegiatan ini menghasilkan perubahan yang dapat dipertahankan kelompok setelah program selesai,” ujar Ketua Tim Pelaksana, Fitria Dewi.

Baca Juga:  Permen PKP No 6/2026 Resmi Berlaku, Pemprov Sultra Gas Bedah 602 Rumah RTLH

“Peternak tidak hanya memperoleh teknologi, tetapi juga memahami pengelolaan pakan, produksi, kesehatan ternak, pencatatan usaha, dan pemasaran secara terencana. Ketika kapasitas meningkat, produktivitas dapat tumbuh, biaya dapat dikelola lebih baik, dan usaha ayam kampung dapat memperkuat ketahanan pangan serta pendapatan keluarga,” lanjutnya.

Selain aspek teknis, pemberdayaan ini juga menguatkan kemampuan anggota kelompok dalam pencatatan produksi dan keuangan. Peternak didorong mencatat jumlah ternak, penggunaan pakan, biaya obat dan vitamin, kematian, hasil panen, harga jual, penerimaan, hingga keuntungan setiap siklus produksi.

Tim juga memberikan pelatihan perhitungan harga pokok produksi, titik impas, dan keuntungan usaha.

Pendampingan dan evaluasi dilakukan secara berkala melalui observasi lapangan, wawancara, pemeriksaan catatan usaha, serta perbandingan kondisi sebelum dan sesudah program.

Aspek yang dievaluasi meliputi peningkatan pengetahuan, keterampilan, penerapan pakan lokal, perbaikan kandang, efisiensi biaya, produktivitas, pencatatan usaha, dan perkembangan saluran pemasaran.

Melalui program ini, UHO dan Kelompok Ntiarasi membangun model pemberdayaan yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat. Peternak ditempatkan sebagai aktor utama pembangunan, sementara teknologi berfungsi sebagai instrumen.

Tujuan akhirnya adalah peningkatan kapasitas, kemandirian kelompok, penguatan ekonomi rumah tangga, dan keberlanjutan usaha.

“Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, mahasiswa, dan kelompok peternak menjadi bagian penting dalam membangun sistem pangan lokal yang lebih mandiri, produktif, inklusif, dan berkelanjutan,” pungkas Fitria.

Penguatan usaha ayam kampung berbasis sumber daya lokal ini diharapkan dapat memperluas manfaat ekonomi, memperkuat kelembagaan kelompok, meningkatkan posisi tawar peternak, dan menjaga kesinambungan produksi pangan lokal di Muna.

Penulis : Arkano

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel sultramedia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Panik Jari Bengkak, Anak Magang Kominfo Kendari Minta Tolong Damkar
Pangkas Biaya Nelayan, Bupati Butsel Gagas SPBU Terapung di Wilayah Kepulauan
Optimalisasi Pajak Daerah Jadi Sorotan di KUA-PPAS APBD-P Baubau 2026
Jangan Sampai Asap Tutupi Pesta, Baubau Diingatkan Bahaya Kebakaran Jelang Hari Jadi
Tali Pengaman Terlepas, Penyadap Enau di Waulai Mubar Meninggal
635 Penumpang di Kendari Batal Terbang ke Jakarta Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau
Lansia 63 Tahun Yang Hilang di Hutan Wuna Akhirnya Ditemukan
Warga 63 Tahun Hilang di Hutan Wuna Muna Saat Pasang Jerat, Tim SAR Lakukan Pencarian
Berita ini 109 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 10:10 WIB

Panik Jari Bengkak, Anak Magang Kominfo Kendari Minta Tolong Damkar

Selasa, 8 September 2026 - 09:27 WIB

Pangkas Biaya Nelayan, Bupati Butsel Gagas SPBU Terapung di Wilayah Kepulauan

Selasa, 8 September 2026 - 09:12 WIB

Optimalisasi Pajak Daerah Jadi Sorotan di KUA-PPAS APBD-P Baubau 2026

Senin, 7 September 2026 - 09:46 WIB

Jangan Sampai Asap Tutupi Pesta, Baubau Diingatkan Bahaya Kebakaran Jelang Hari Jadi

Senin, 7 September 2026 - 04:12 WIB

635 Penumpang di Kendari Batal Terbang ke Jakarta Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau

Berita Terbaru

Berita Daerah

Panik Jari Bengkak, Anak Magang Kominfo Kendari Minta Tolong Damkar

Selasa, 8 Sep 2026 - 10:10 WIB

Berita Nasional

Target 2029 Tembus Lebih Cepat, Penetapan LP2B Nasional Capai 87,52%

Selasa, 8 Sep 2026 - 06:09 WIB