Muna, Sultramedia — Peneliti dari Institut Seni Budaya Indonesia Bandung sekaligus tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Hj. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum, menyebut kawasan gua prasejarah Liang Kabori di Kabupaten Muna memiliki lukisan gua paling unik di dunia.
Hal itu disampaikan Prof. Een setelah 2 tahun melakukan penelitian bersama tim ahli BRIN dan Universitas Halu Oleo (UHO), Senin (13/07/2026).
“Saya mulai meneliti di Muna tahun 2024. Saat meneliti kami menjelajahi kawasan Liangkabori. Awalnya ada informasi 43 situs, dan alhamdulillah semua bisa kami datangi. Bahkan kami menemukan 5 lokasi baru pada tahun itu. Pada tahun 2025 ditemukan lagi 18 situs, sehingga totalnya menjadi 66 situs,” ujar Prof. Een.
Tim peneliti ini berkolaborasi dengan Arkeolog BRIN Prof. Lutfi Yondri, Prof. Kustini, Ahli Humaniora BRIN, serta tim dari UHO: Prof. Dr. Ahmad Marhadi, Dr. Rahmat Sewa Suraya, Dr. Firmansyah, dan seniman senior Kendari Suhandi.
Menurut Prof. Een, ada 4 hal utama yang membedakan lukisan di Muna dengan tempat lain:
1. Motif Sangat Ragam: Ada gambar manusia berburu, memancing, menari, berlatih ewa wuna atau ewa muna, binatang, matahari, kaghati kolope, katimboka, sapi, kuda, kerbau, hingga bulu babi;
2. Kreativitas Tinggi: Walaupun hidupnya sederhana tetapi masyarakat Muna pada masa itu sudah memiliki karya seni yang luar biasa;
3. Narasi Aktivitas: Lukisan seolah menceritakan aktivitas masyarakat saat itu. Banyak sekali lukisan yang menggambarkan kegiatan ewa wuna. Ini sangat menarik karena latar saya sejarah tari. Artinya pada masa lalu sudah ada seni, beladiri, ritual, dan tari; dan
4. Keanekaragaman Hayati: Ada gambar binatang laut seperti bulu babi yang jarang ditemukan di situs lain.
“Saya yakin bahwa lukisan gua di Muna itu merupakan lukisan terunik di dunia. Di tempat lain motif gambar tidak sekaya di Muna,” tegasnya.
Prof. Een juga mengapresiasi pelaksanaan Festival Liangkabori yang dihadiri langsung oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon.
“Upacaranya luar biasa, ada penyambutan dengan ewa wuna, sajian tari Linda. Makanan beragam, pakaian adat bermacam-macam. Semoga Pak Menteri mewujudkan harapan masyarakat Muna jadi destinasi wisata khusus,” ujarnya.
Ia pun memberi 5 masukan agar festival naik kelas:
1. Penguatan Narasi Edukasi & Konservasi: Jadikan “Lascaux-nya Indonesia”. Buat zona penyangga, pemandu bersertifikat, papan interpretasi AR/VR, dan larangan menyentuh lukisan;
2. Ekonomi Kreatif Warga: Bikin Pasar Kreatif Kaghati, pelatihan pemandu wisata dan pengrajin, serta paket wisata “3 Hari Jejak Peradaban” kolaborasi dengan Pantai Meleura dan Napabhale;
3. Skala Nasional-Internasional: Undang residensi seniman & peneliti asing, buat seminar arkeologi rutin, dorong masuk Kharisma Event Nusantara Kemenparekraf;
4. Pelibatan Gen Z dan Digitalisasi: Kompetisi konten #JejakLiangkabori di TikTok, muatan lokal di sekolah, dan arsip digital museum virtual; dan
5. Tata Kelola: Bentuk Badan Pengelola Festival bersama Pemdes, Pemkab, Akademisi, Komunitas Adat. Dorong Perda Provinsi agar ada anggaran tetap tiap Juli.
“Intinya: Festival ini bukan cuma hiburan. Kalau dikuatkan di 3 pilar: Konservasi + Ekonomi Warga + Branding Global, Liangkabori bisa jadi ikon peradaban Indonesia Timur,” tutupnya.











