BAUBAU, SULTRAMEDIA — Rumah Jabatan Wali Kota Baubau dipenuhi lantunan shalawat dan doa pada Selasa (25/08/2026) dini hari. Wali Kota Baubau, Yusran Fahim, menggelar ritual Goraana Oputa.
Kegiatan ini merupakan tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang telah mengakar di masyarakat Wolio sejak Islam masuk ke Tanah Wolio akhir abad ke-14 Masehi.
Bagi masyarakat Wolio, bulan Rabiul Awal adalah Bula Kasongoana Nabi. Selama 18 hari, mulai 12 hingga 30 Rabiul Awal, seluruh kegiatan adat difokuskan untuk memuliakan Rasulullah SAW. Tidak ada upacara lain yang digelar di bulan ini.
Sebagai Sulewatana atau pengganti Oputa, Wali Kota Yusran Fahim memimpin prosesi di ruang utama Rujab. Hadir perangkat Masjid Agung Keraton dan unsur Forkopimda. Sementara para undangan perempuan menempati ruang tengah.
Pembacaan Barzanji dipimpin Sara Kidina atau Imam bersama empat orang Moji. Doa dan kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW dilantunkan khusyuk. Tradisi ini dulunya hanya dilakukan di Istana Kesultanan Buton oleh Bhisa Patamiana, dengan Sultan dan Permaisuri dipisah tirai. Usai pembacaan selesai, barulah Sultan bergabung bersama perangkat kesultanan.
Rangkaian Maulid di Baubau terdiri dari 3 tahapan utama:
1. Goraana Oputa
Dimulai pukul 00.00 WITA tanggal 12 Rabiul Awal. Ini adalah munajat pemimpin kepada Allah SWT untuk keselamatan negeri dan rakyat. Ritual ini juga menjadi penanda dimulainya rangkaian Maulid. Goraana Oputa mempertemukan umara dengan ulama yang diwakili perangkat Masjid Agung Keraton. Usai Barzanji, acara dilanjutkan makan bersama.
2. Haroana Miya Bari
Dilaksanakan pagi harinya hingga 29 Rabiul Awal. Seluruh masyarakat Wolio menggelar haroa sebagai wujud cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
3. Maludhuna Hukumu
Penutup rangkaian pada 30 Rabiul Awal di Galampa Lakina Agama, dipimpin seluruh perangkat Masjid Agung Keraton.
Wali Kota Yusran Fahim menegaskan, pelaksanaan Goraana Oputa tahun ini bukan hanya syiar agama. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kebersamaan antara ulama, umara, dan masyarakat.
“Tradisi ini mengandung nilai kepemimpinan, persaudaraan, dan tanggung jawab seorang pemimpin terhadap keselamatan serta kesejahteraan rakyatnya,” ujar Yusran.
Ia juga menyampaikan komitmen Pemkot Baubau untuk terus menjaga dan menghidupkan nilai-nilai religi serta kearifan lokal Wolio. Sebab itu adalah bagian penting dari identitas budaya Kota Baubau.
Acara ditutup dengan doa bersama dan jamuan makan dalam suasana penuh kekeluargaan.











