MUNA, SULTRAMEDIA — La Ode Muhammad Rabiali, aktivis lingkungan yang pernah bekerja di Zoological Society of London (ZSL) dan pernah aktif dalam penanganan kebakaran hutan Sumatera, mengkritik keras Pemda Kabupaten Muna yang dinilai pasrah di tengah kepungan asap beracun kiriman Papua.
BMKG konfirmasi, kabut tebal di Raha adalah asap kebakaran gambut dari 6.703 titik panas di Papua Selatan yang menempuh 1.800 Km ke Muna. Jarak pandang turun di bawah 5 Km.
Fakta di Raha sangat memprihatinkan. Sangat banyak warga keluar tanpa masker, bahkan berolahraga tanpa masker. Mereka tidak sadar udara Kota Raha sekarang tidak sehat dan mengandung racun.
Rabiali menjelaskan, asap yang dihirup warga bukan kabut air biasa.
“Asap yang kita hirup ini bukan kabut air. Ini asap gambut yang sangat beracun. Mengandung PM2.5 yang masuk langsung ke paru-paru hingga darah, Karbon Monoksida yang bikin sesak dan pusing, serta Formaldehida dan Akrolein yang merupakan zat pemicu kanker,” ujar Rabiali, Rabu (14/10/2026).
Menurutnya, bahayanya sangat nyata. Paparan asap ini bisa memicu ISPA, asma kambuh, gangguan jantung, dan pada anak-anak rentan stunting jika terpapar lama. Warga yang berolahraga tanpa masker sama saja mempercepat racun masuk ke tubuh.
“Warga dibiarkan hirup racun. Pemda diam, tidak ada mitigasi, tidak ada masker, tidak ada peringatan. Ini pembiaran yang berbahaya,” tegasnya.
Ia menegaskan Pemda Muna harus segera melakukan langkah penanganan untuk melindungi masyarakat dan tidak boleh hanya diam dan pasrah karena kondisinya sudah sangat berbahaya.












