MUNA, SULTRAMEDIA — Dua bulan sudah. Bandara Sugimanuru di Kabupaten Muna Barat resmi vakum. Tak ada jadwal, tak ada penumpang, tak ada pesawat.
Sriwijaya Air, satu-satunya maskapai yang melayani rute Muna-Makassar PP, resmi out sejak 1 Juli 2026.
Kepala UPBU Sugimanuru, Mohamad Khusnuddin, membenarkan hal itu, Jumat 28/08/2026.
“Maskapai yang beroperasi sebelumnya sudah tidak lagi melayani rute ini. Harga avtur yang cukup tinggi berdampak pada kenaikan harga tiket, sehingga Pemerintah Kabupaten Muna Barat tidak lagi melanjutkan subsidi,” ujarnya.
Singkatnya: karena efisiensi anggaran, subsidi penerbangan dicabut. Dampaknya, pelayanan mati total.
Keputusan ini memutus akses cepat Muna-Makassar. Warga yang biasa berobat, kuliah, atau urus bisnis kini dipaksa kembali ke jalur laut-darat yang makan waktu seharian.
Bandara yang dibangun dengan anggaran miliaran rupiah kini hanya jadi gedung kosong.
Pemkab Muna Barat mengaku tak tinggal diam. Akhir Juli 2026, Bupati La Ode Darwin menandatangani Nota Kesepahaman MoU dengan maskapai Fly Jaya di Jakarta.
Tujuannya menghidupkan kembali penerbangan di Sugimanuru.
“Untuk informasi lebih lengkap, silakan konfirmasi kepada pihak Pemerintah Kabupaten Muna Barat,” kata Khusnuddin.
Namun hingga akhir Agustus, belum ada kepastian kapan Fly Jaya akan beroperasi. Tiket belum dijual. Jadwal belum ada.
Di tengah jargon “efisiensi APBD”, publik kini bertanya: efisiensi untuk siapa? Jika pelayanan dasar seperti konektivitas udara harus dikorbankan, untuk apa ada bandara?










