MUNA, SULTRAMEDIA — Tim Peneliti Kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan hasil penelitian selama tiga tahun di Kawasan Cagar Budaya Gua Liangkabori, Kabupaten Muna. Ekspose digelar di Hotel Ness Inn Kota Raha, Rabu (14/10/2026).
Penelitian ini merupakan bagian dari program “BRIN Ekspedisi” yang didanai sejak akhir 2023. Tim gabungan dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, BRIN, dan Universitas Halu Oleo (UHO) menelusuri jejak peradaban artistik simbolik masyarakat Muna melalui lukisan di gua dan tebing.
Prof. Dr. Hj. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum, Guru Besar Sejarah Tari dan mantan Rektor ISBI Bandung, menyampaikan bahwa awalnya tim hanya memiliki data 43 lokasi dari berbagai referensi.
“Tahun 2024 kami selama sebulan tinggal di Raha dan Liangkabori. Kami datangi semua 43 lokasi, walau ada yang di tebing tinggi. Dari situ kami menemukan 5 lokasi baru. Total jadi 48 lokasi,” ujar Prof. Een.
Hal yang paling menarik perhatiannya adalah motif manusia dengan pose seperti menari.
“Sebagai orang tari saya selalu tertarik dengan sikap gerak dari lukisan itu yang seperti menari, seperti Ewa Wuna. Biasanya bukti tari tertua hanya ada di relief Prambanan dan Borobudur. Di sini, pada masa prasejarah ternyata sudah ada gerakan atau tarian-tarian,” jelasnya.
Prof. Een meyakini lukisan-lukisan itu berkaitan dengan ritual. Kelahiran tari itu selalu berasal dari upacara-upacara.
“Gambar-gambar ini persis, ada sikap gerak yang mirip dengan tarian sekarang yang masih hidup. Ini warisan nenek moyang yang ingin bercerita tentang kehidupan mereka pada masa itu,” katanya.
Ia menambahkan, pada 2025 tim kembali selama 18 hari dan menemukan hingga 66 lokasi. Di 2026, jumlahnya bertambah menjadi 72 lokasi di kawasan Liangkabori.
“Bahkan saat mau pulang, ada warga yang memberi info lokasi baru. Di situ kami menemukan gambar yang sangat tebal,” ujarnya.
Prof. Een juga menekankan pentingnya literasi. Sebagian penggiat budaya, ia ingin masyarakat tidak hanya mengenal tetapi memaknai apa yang disampaikan. Apalagi melalui lukisan dan gambar-gambar yang sudah ditemukan ini memberikan penjelasan bahwa masyarakat muna pada zaman dulu menceritakan kehidupannya.
Ia berharap ke depan ada kebijakan yang berpihak pada perlindungan. Apalagi situs ini merupakan warisan budaya artistik simbolik dengan keunikan sebagai galeri lukisan raksasa karena saking luasnya. Ada ribuan gambar dan menjadi unik di dunia.
“Kami meneliti keunikannya, makna-makna yang ada di dalamnya, dan info kehidupan masyarakat masa lampau. Ini perlu ada literasi agar warisan ini terjaga,” katanya.
Dr. Lutfi Yondri, M.Hum, Peneliti Ahli Utama di Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, menjelaskan awal keterlibatannya karena penasaran dengan lukisan layang-layang di gua Muna.
“Cukup menarik, perubahan jumlah lokasi itu menunjukkan sebarannya ada di mana-mana. Dulu saat senior saya Pak Kosasi datang baru 9 lokasi. Sekarang 72 baru di Liangkabori, ini belum di semua Pulau Muna,” ungkap Dr. Lutfi.
Tim peneliti lainnya, Amaluddin Sape, M.A, Arkeolog Sulawesi, menyoroti kondisi fisik lukisan gua. Berdasarkan pengamatan 2024-2026 di 72 lokasi Liangkabori dan 2 lokasi di Tanjung Laiworu dan Bone Kacintala, banyak kerusakan ditemukan.
“Kondisinya sangat memprihatinkan. Selain banyak yang terkelupas, unsur-unsur bahan untuk membuat gambar mulai terlepas dari medianya. Aktivitas pembakaran pembukaan lahan oleh masyarakat juga memberi efek. Asap bakaran menghasilkan karbon yang menempel di dinding goa dan tebing, menutupi lukisan yang ada,” jelas Amaluddin.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Muna, LM Masrul menyatakan Pemda mendukung penuh agar hasil penelitian tidak berhenti di jurnal.
“Atas arahan Pak Bupati, bagaimana hasil-hasil penelitian itu kita implementasikan di kegiatan ekonomi kreatif. Yang terpenting adalah bagaimana hasil penelitian bisa mengangkat harkat, martabat dan nilai Kabupaten Muna,” kata LM Masrul.
Ia menyampaikan rencana Pemda ke depan dengan kegiatan diseminasi hasil-hasil penelitian BRIN terkait Kawasan Cagar Budaya Gua Liangkabori.
“Nanti kami akan digitalisasi semua motif-motif yang ada di 72 gua yang sudah ditemukan. Harapannya akan di-HAKI-kan semua motif demi tujuan kemajuan dan pendapatan asli daerah,” ujarnya.












